what i think about when i read ‘what i think about what i talk about running’

20 09 2014

So I have been experimenting with some new stuff recently. Things that i didnt think i would even dare to think about doing. One of them is reading novels cause for the most part of life im used to reading non fiction. Wonder why all the pessimistic and often cynicism ever present? Somehow I blame this bias towards non fiction for my often lack of imagination in many occasions.

Anyways, I read Haruki Murakami’s ‘what i think about when i talk about running’ for some reason. The title popped up when i signed up for goodreads, so i gave it a shot.

So basically the book is about Haruki’s mumbling when he does his hobby of running. Full stop. If then i ask myself, what do I think of running? If its not because of the most number of calories it burns out of my bellyfat, i wouldnt ever do it. Heck I even avoid running that much when playing tennis, relying more on my shot placement (moonball, or slicing, just to give me time catching my breath while hoping my opponent makes an error) for points. Needless to say the book doesnt have any effect on my desire to run.

What strikes me the most about the book was that how reflective Haruki was when he does the running, or around his running. Considering how the world works now, fast-paced and seems to be always on the move, it is quiet admirable how he could maintain that reflective side alive. Just think about it. Most people, i think, now do stuff just by necessity. Young parents’ constant care for their babies, students’ concerns of where to do internship, or where to land their next job, when is the next meeting, and the list keeps going.

They said that the life unscrutinized is not the one worths lived.

Advertisements




third decade

20 09 2014

What have you done in your 20’s? The 3rd decade of your life. How many firsts have you had?

Well, i have only got less than three years of my 20’s left. Time goes very fast that i wont matter even if you want to slow things down.

I almost have no chance to take a step back to comprehend how things turn out the way they do. All of a sudden, i found myself knowing that some of my students are already having their first baby, some of my friends are expecting their second child, a friend doctor of my parents even reminding me to check for prostate cancer because he said “it’s about time for me to have such precautionary check”.

Whatta heck happened?





What my MPP-MPA Degree is all about

26 07 2014

18 July 2014, another important milestone of my life: officially awarded the Masters in Public Policy (MPP) and Public Administration (MPA) by the Lee Kuan Yew School of Public Policy and the London School of Economics and Political Science.

So just to give you a bit of context what MPP or MPA means, or whatta hell I have been studying, in simple words: it’s a blend of politics and economics in policy making (rules, arrangement intended for the general public). So there’s micro and macroecon, econometrics, politics modules, client-project and dissertation involved.

While it is very easy to keep talking about me, me and me, or I, I and I when it comes to this milestone, I am going to tell you what this degree is all about, what it means, why it is important.

1. This degree is dedicated to all the good people and students of SDN 002 Labuangkallo.

The Indonesia Mengajar experience gave the impetus for me to taking this degree. My dissertation is in a way about them! Knowing and experiencing what happens at the grass root level is the first thing. Then, understanding the science and knowledge why it could happen is the second thing. Now my goal is to actually do something about it. This degree is the small step, so then local communities such as the Labuangkallo people would be better off in the future.

2. This degree confirms that one can never achieve anything by themselves.

Parents, relatives friends, girlfriend (for most part of it at least), professors, admin staff, etc are all God-sent making things possible for me to complete the degree. I guess, there is no point of bragging about it as MY degree, it is a collective work afterall.

3. The whole studying experience confirms that I belong to Indonesia.

No matter how many foreign cities i have been, there’s no single bit of decrease in my commitment for the better Indonesia. I guess, some people seems to get carried away, treating the opportunity of being abroad as a mere “jalan-jalan”, or the time of bashing your own country. I see this experience as a simple dot in my effort to contribute the next time around.

Hence, now you can officially address me as Mr Patrya Pratama, MPA/MPP. Coming up next in 5-6 years: PhD.





Oblivion

26 06 2014

Sudah dulu ya berbicara politiknya, kali ini saya ingin berbicara hal lain yang lumayan jarang saya bicarakan: kematian alias death.

Pernah gak sih berada di suatu situasi di mana kita lagi sering mikirin sesuatu, lalu tiba2 ada aja hal yang kasih kita bahan tambahan mengenai hal itu? Jadi gini, akhir-akhir ini kan saya ceritanya mau segera lulus S2, nah muncullah keharusan untuk segera memutuskan dimana saya akan mengabdi setelahnya, apakah menjadi akademik, berkecimpung di corporate sector, konsultan, dll. Banyaklah pertimbangan yang muter2 di kepala. Entah kebetulan atau gmana, eh muncul beberapa artikel, film, video yang seakan2 Tuhan berikan untuk saya jadikan pertimbangan. Kali ini saya akan bahas mengenai yang film dulu. Video dan artikel akademis mungkin saya akan bahas di posting berikutnya.

Seseorang yang cukup spesial untuk saya memberi tahu kalau ada film baru yang bagus yg layak ditonton, Judulnya The Fault in Our Stars. Katanya ini didasarkan dari novel. Tentu saja saya ga pernah mau baca novel kalau toh sudah ada filmnya (wasting time kan, baca berjam2 pdhl saripatinya didapat dalam 2 jam menonton film?). Disini saya ga akan meresensi filmnya, silakan google sendiri. Tp saya cuma akan bahas satu aspek di dalamnya: tentang kematian.

Tema ini sering ada di pikiran saya akhir2 ini, termasuk ketika saya mempertimbangkan beberapa pilihan karier, dan ucapan si pemeran cowok di film itu kaya sama persis dgn yg ada di pikiran saya ketika ditanya apa ketakutan terbesarnya: oblivion.

Oblivion = pelupaan, keadaan terlupa. 

Rupanya, si pemeran cowo itu percaya bahwa dirinya ditakdirkan untuk membuat sesuatu yang penting untuk orang lain sementara dia menjangkit penyakit yang membuatnya segera meninggal. Dan pastinya dia kesel (tentu saja pacarnya kesel krn menurutnya dia ckp penting dan ga akan terlupa,,, uh puhleasee -_-, tp saya ngerti bgt poin dr si cowo itu).

Trus saya jadi mikir, ketika saya meninggal nanti, atau tua nanti, saya tinggalkan apa untuk anak dan manusia-manusia yang masih hidup setelah saya? Will I sink into oblivion?

Benar ucapan Steve Jobs ketika menghadiri graduation di Stanford dahulu, “kematian adalah penemuan terbaik bagi umat manusia, karena tanpanya ga akan ada urjensi manusia untuk berbuat ini dan itu”. Bayangin kalau kita idup terus, mungkin segala inovasi akan ditunda-tunda karena mikirnya ah nanti aja, we have all the time in the world. Pak Anies juga sempet bilang yang kurang lebih “jgn pikirin sekarang aja, pikirin anak cucu akan blg apa ke kita nanti”. 

Faktanya, kita tidak punya segala waktu di dunia, dan hidup kita mungin akan berakhir esok, minggu depan, kapan saja. WIll I sink into oblivion by then?

Mungkin idup itu sebaiknya dijalanin seperti ketika ngerjain projek yang ada deadlinenya, kita working backwards, mulai dari ahir. Ujungnya mau apa. Yagak sih? Tp bukannya itu yang kita smua struggling ya, ujungnya mau kaya apa, dan ujungnya itu kapan?

All right, maybe i should just write on political stuff rather than this rambling. 





“Presiden kita tahun 2014 itu kaya apa sih Kek” tanya cucu kita kelak

10 06 2014

Posting kali ini mungkin agak sedikit melodramatik yang engga saya banget. Dan -sayangnya- masih mengenai pemilu presiden 2014 ini. Saya ingin keluar sebentar dari frame berpikir kekinian, dan ngajak kita bayangin kita 20-30 taun ke depan, saat udah pada punya anak dan cucu.

Bayangkan saat itu, cucu kita yang masih kecil bertanya tentang salah satu bab dalam buku sejarahnya, bertemakan pemimpin Indonesia, pada kita.

“Kakek, presiden yang gantiin Yudhoyono taun 2013, eh 2014, itu kaya apa sih Kek?”

Saya pengen banget bisa jawab, “iya, presidennya namanya Joko Widodo. Dia orang kampung dari Solo, pas kecil pernah digusur, lalu dia punya usaha mebel. Walaupun pengusaha, dia sukanya bantu orang dan mau repot2 ikutan pemilu jadi walikota Solo. Orangnya jujur, mau kerja, mau ngedengerin orang ke pelosok-pelosok. Dia kepilih 2x jadi walikota. Dia bukan orang kaya, cuma modal kerja dan jujur. Lalu dia jadi gubernur Jakarta dan akhirnya jadi Presiden”

“Kamu juga nanti kalau sudah besar bisa kaya gitu. Asal kerja keras, jujur, sekolah yang bener, pasti bisa jadi presiden, walaupun kamu bukan anak siapa2, dan Kakek ga bisa kasih banyak ke kamu. Kerja keras dan mau bantu orang lain itu modal utama utk berhasil”.

Saya pengeen banget bisa nyeritain cerita itu ke cucu dan anak saya nanti. Saya butuh inspirasi utk keturunan kita kelak bahwa Indonesia bisa dipimpin oleh orang biasa, yang asalkan jujur, mau kerja, dan bantu orang lain.

Jokowi adalah contoh di Indonesia mengenai apa yang di Amerika disebut dengan “the American Dream”. Kerja keras, taat aturan, dan Anda punya kemungkinan untuk sukses di dunia. Bagi saya, pemilu sekarang ini adalah fight yang sifatnya intergenerasi untuk tinggalkan legacy pelajaran yang bisa dipetik oleh anak cucu kita kelak.

Biarkan pesan ini terdengar keras dan berulang di setiap sudut penjuru desa-desa di Indonesia, di Paser, di Majene, di Papua, di Rote Ndao di manapun: ga peduli siapa ayah, ibu, keadaan ekonomi, agama, fisik, dan suku kamu. Asal kamu mau kerja keras, jujur dan selalu mau bantu orang lain ketimbang memperkaya dirimu sendiri, kamu bisa jadi apapun yang kamu mau, bahkan jadi presiden sekalipun.





Apakah pendukung Prabowo secara inheren tidak logis dan kurang pintar?

8 06 2014

Gw akan memulai tulisan ini dengan mengatakan bahwa sepanjang sejarah pendek 2x pemilihan presiden secara langsung di Indonesia, baru sekarang pilihannya se-kontras dan sejelas tahun ini. Latar belakang karier kandidat, track record di pemerintahan, latar belakang keluarga, dan kelompok/orang2 pendukung, termasuk hal-hal yang ga perlu gw ulang jelasin disini untuk tunjukkan ke-kontras-an di antara dua kandidat itu, walaupun sebenarnya dari segi ideologi ekonomi keduanya kurang lebih berada pada track yang sama yaitu populism dan hanya berbeda penekanannya yang mana kekontrasan tidak begitu kentara.

Apa konsekuensi dari kontras-nya kedua kandidat? Sebagai hasilnya, orang yang memutuskan memilih jokowi dan memilih prabowo menurut gw akan sangat jelas perbedaannya. 

Pesan utama dari tulisan ini yang ingin gw katakan adalah mereka yang mendukung Prabowo secara inheren itu pasti gak logis dan kurang pintar. Dan yang menarik, ternyata orang2 yang gak logis dan kurang pintar ini adalah termasuk di dalamnya orang-orang well-educated.

1. Masa lalu: isu HAM, dipecat/ga dari TNI

Granted, kita menerima (bukan setuju lho ya) dengan kasih benefit of a doubt bahwa Prabowo tidak dipecat dari TNI dan keterlibatan dia dalam penculikan dan kasus2 HAM di masa lalu. Tp bahkan seorang pendukung Prabowo yang paling fanatis pun tidak dapat menghindarkan fakta bahwa memang masih ada ketidaksepakatan mengenai isu tersebut, dan memang belum selesai, seperti ke mana nasib aktivis yang belum kembali, siapa yang salah, apakah ada hukuman? Dan Prabowo berada di dalam pembahasan-pembahasan tersebut. So, it is safe to say bahwa “isu HAM 97-98 di Indonesia memang belum jelas penyelesaiannya dan Prabowo berada di antara pembahasan isu tersebut”.

Jokowi jelas-jelas ga punya isu masa lalu yang masih dipertanyakan seperti Prabowo. Pun kita mau selesaikan isu HAM for good, dia lebih kredibel untuk melakukannya karena pemain tidak mungkin menjadi wasit sekaligus. 

But guess what? pendukung prabowo tetap memilih prabowo anyway. Kurang logis dan pintar

2. Prestasi

Ok, kita buang jauh-jauh isu HAM dan berasumsi prabowo tidak punya masalah HAM dan dia merupakan jenderal pro-reformasi (yang tidak menculik-i aktivis2 reformasi at the time), kembali ke 0-0.

Kita lihat prestasi. Tentu saja kita harus hanya melihat yang relevan sama kerjaan yang sedang dikompetisiin (presiden RI) utk lihat aspek prestasi yang relevan. Kalau engga, kita sama aja dengan menerima pelamar kerja yang berprestasi sebagai pemusik utk pekerjaan investment banking. Ga relevan dan ga nyambung.

President is a democratically elected public officials, accountable to its people through election, attributed to their likes/dislikes and satisfaction/dissatisfaction. Prestasi prabowo: NOL, wong dia ga pernah mengurusi institusi dengan setting itu. He has never been in such job. Ga ada transferrable knowledge dan skill yang Prabowo miliki untuk diekstrapolasi ke presidency yang akan dia pimpin. Kalau bahasa Jusuf Kalla, “ini uji coba”. 

Lihat pilihan satu-nya lagi, Jokowi lahir dan besar dari the very democratically elected government officials, memenangkan 3 pemilu. Dengan kata lain, people choose him. Temen gue, si Dzulfian anak Warwick, bilang kalau ini gak fair karena dengan demikian presiden RI hanya bisa dari yang berlatarbelakang spt Jokowi (sipil dan dari pemda). Well, klo pilihannya cuma prabowo dan jokowi, ya jelas jokowi overwhelmingly unggul disitu.

But guess what? pendukung prabowo tetap memilih prabowo anyway. Kurang logis dan pintar.

3. Teman

Granted lagi, Prabowo ga punya masalah HAM dan prestasi Jokowi dalam pemerintahan counts for nothing. Kadang calon presiden bersandar pada tim dan orang2 sekelilingnya untuk membantunya. This is the easiest job a candidate can do untuk menutupi kelemahan kan: getting good think tank team, get public endorser, etc. 

Prabowo surrounds himself with the likes of Aburizal Bakrie (no need to tell his fraudulent business) dan menjanjikannya menteri utama, Suryadharma Ali, PKS (yang mana keterlibatannya dalam pemerintah SBY lebih spt duri dalam daging, well i guess Prabowo learns nothing out of that, or the fact that presidennya juga korup), Mahfud Md yang kecewa karena ga dijadikan cawapres Jokowi (klo gw sih males bgt dijadiin pelarian, tp Prabowo doesnt seem to mind that), dan rhoma irama (sejenis dengan mahfud, cuma dalam a whole new lower level). Untuk membuatnya lebih buruk, Prabowo tidak malu2 menerima dukungan dari FPI dan ormas2 yang notoriously jd poster boy anti-toleransi, mengajak partai Demokrat dan bilang bahwa pemerintah SBY telah menghasilkan prestasi (walaupun juga bilang PD salah mengurus negara), serta baru-baru ini main2 dengan pro-soeharto dengan menjanjikan gelar Pahlawan Nasional utk Soeharto dan mengunjungi makamnya.

Apa pesannya? Prabowo mendekati siapa saja, terlepas dari track record dan integritas kawannya, sejauh dapat dukungan untuk jadi presiden.

Jokowi mengelilingi dirinya dengan aktivis dan akademisi: teten masduki, Andi Widjajanto, Anies Baswedan, Belum lagi Dahlan Iskan. Dia (dan PDIP tentunya) bahkan menolak Aburizal Bakrie setelah mengetahui Ical mengajukan syarat2 dalam koalisi. He dared to pick which friends are useful dan berani katakan tidak pada teman yang menjerumuskan.

Pendukung Prabowo bilang “tapi Jokowi kemungkinan dipengaruhi Megawati”. Serius deh, jadi mending ga ada pengaruh dari megawati (yang mana adalah accusation) ketimbang jelas-jelas pemerintahan yang sudah berencana memberikan peran bagi Ical, bersahabat dengan FPI, mentoleransi koruptor di tim-nya, dan bersahabat dengan kalangan Soeharto-is yang jelas2 alasan utama kita memulai reformasi? Megawati is clearly the lesser evil klo dibandingkan orang2 itu. 

But guess what? pendukung prabowo tetap memilih prabowo anyway. Kurang logis dan pintar

4. Tegas dan potongan presiden

Ok, kita anggap masa lalu Prabowo bersih, prestasinya sbg militer relevan bagi setting pemerintahan demokratis (still role my eyes over this), dan teman2nya Prabowo gak ngaruh (uh puh-lease). Kita keluarkan semua konteks, dan lihat yang gak substance: style.

Jokowi ga bs bahasa inggris, prabowo bisa (walaupun konten suka kontradiksi, 1 hari SBY salah urus hari lain SBY berprestasi), Jokowo klo pidato pendek dan tata bahasanya ga indah sementara Prabowo menggebu2.

Tanggapan gw cuma 2, kurang bagus apa style SBY ketika pidato? Hasilnya? Plus bear in mind, kalau Presiden China, Shinzo Abe, Francois Hollande, Angela Merkel, Narendra Modi dan Vladimir Putin sekalipun ga ada yang speak English well, dan selalu menggunakan bahasa aslinya di forum internasional. Plus kalau lo mau ngomongin yg ga substance beginian, otomatis lo juga peduli sama adanya istri. Bayangkan siapa yang menyambut Michele Obama atau Mrs Cameron atau Mrs Abbot ketika Prabowo mengunjungi kunjungan kenegaraan? Fadli Zon?

But guess what? pendukung prabowo tetap memilih prabowo anyway. Kurang logis dan pintar

5. Program

Gue di awal bilang kalau dalam hal program, keduanya tidak banyak berbeda karena sebenarnya keduanya berada di garis ekonomi populist. Dengan demikian, pertanyaannya sebenarnya, siapa yang paling credible untuk menunjukkan bahwa janjinya yang paling mungkin ditepati?

Cara paling mudah adalah lihat track record dan trend-nya.

Prabowo has never been in a position untuk negosiasi upah buruh, deal dengan rumah sakit dan dokter-dokter ngurusin asuransi universal, bergulat dengan pengusaha untuk memotong masa perizinan. Dengan kata lain, we have ZERO basis untuk menilai kredibilitas Prabowo. 

Gue gamau jelasin gmana Jokowi sudah pernah menjalankan peranan itu. Orang2 mungkin akan menilai sendiri gmana sukses atau tidaknya dia menjalankannya, tapi dia ADA track record yang bisa dinilai.

But guess what? pendukung prabowo tetap memilih prabowo anyway. Kurang logis dan pintar.

 

Kesimpulan:

Selama hidup gue yang pendek ini memperhatikan pemilu-pemilu presiden di dunia, belum pernah ada pemilu yang semudah ini ngasih pilihannya. Banyak yang segelintir bilang kalau mereka bete sama Jokowi dan gamau milih jokowi karena pendukunganya fanatik bgt, well, gmana gak fanatik klo ngeliat orang2 yg dikasi pilihan sejelas ini masih juga dukung prabowo. Kurang logis dan pintar. 

 

 





Kenapa lo ga bisa santai2 aja klo pemilu

2 06 2014

Kesenangan gw pada politik sebagai ilmu dan isu memang bukan kombinasi yang baik terutama bila pada saat yang sama tengah menghadapi ujian akhir di kampus. Mumpung ujian selanjutnya masih sekitar 10 hari lagi dari sekarang, jd sempat lah kiranya untuk menulis 1 entry kali ini.

Kali ini gw ingin khusus membahas ajakan-ajakan, seperti yang disampaikan oleh salah satu panutan gw Kak Anies Baswedan beserta banyak orang lainnya yang pada intinya mengajak kita semua santai saja bila pilihan kita berbeda pada saat pemilu. Berikut kutipannya:

“….. saya menyaksikan ungkapan atas perbedaan itu seakan sedang menghadapi musuh. Beda pilihan figur itu normal, wajar dan manusiawi. Santai saja, tidak perlu kecewa dan marah pada orang lain yang pilihannya berbeda.”

Senada dengan itu, salah satu aktivis favorit saya pas pemilihan legislatif lalu Yoga Dirga juga menuturkan seperti ini:

” ….. Saya tidak peduli apa pilihan politikmu. Kita semua BERSAUDARA dan itu akan TETAP berlaku”.

With all due respect pada kedua tokoh di atas, dan dengan memahami penekanannya pada persaudaraan, saya gamau “santai aja” dan “ga peduli sama pilihan orang2 sekitar gw”. 

Menurut gw, harus dibedain antara “gak santai” dan “menghormati pilihan orang” dengan “melakukan kekerasan” atau “menganggap musuh”. Kekerasan dan menganggap musuh politik seakan2 di medan perang memang out of the equation, tp gw ga setuju klo kita santai2 aja dan ga peduli sama pilihan politik orang2 sekitar kita.

I want a passionate democracy! passionate politics! bukan demokrasi yang nyantai2 aja.

Gw berpendapat kalau demokrasi itu menginginkan aktor-aktor (termasuk kita) yang passionate pada issue, ideologi, pandangan yang kita miliki. Kita saling challenge, saling serang, saling debat. That’s the essence of democracy, rigourous competition of ideas. Kalau kita ga passionate, gw mempertanyakan klo kita bener2 ngerti engga, atau ngerasa punya stake ga di demokrasi ini. 

Gw terus terang ga bisa santai klo ada keluarga gw, orang yang terbilang deket sama gw, bisa-bisanya ngedukung Prabowo. Gw peduli banget sama masa depan negara gw, dan gw gamau orang2 yg terbilang aksesible sama gw bisa-bisanya ngedukung prabowo. Dan i would encourage jg klo ada yg berpandangan sebaliknya untuk challenge pandangan gw, passionately! walaupun gw seriously mempertanyakan kewarasan orang ybs klo emang ngedukung prabowo. 

Gw ga mau santai2 aja, dan ga peduli ketika negara kita menghasilkan presiden Prabowo. Gw ga rela demokrasi kita menelurkan pemimpin yg sejak awal bukan bagian dari proses reformasi kita. Enak aja pengen jd presiden dari era yang bahkan ga dia dukung sejak awal. 

Santai aja, dan bersikap ga peduli sama pilihan orang2 sekitar kita untuk ngedukung calon yang salah cuma menghasilkan outcome yang buruk, karena kita ga memperjuangkan apa yang kita percayai dalam demokrasi. 

It’s democracy! you fight, defend, attack ideas and message rigorously.