Learning from 2 “away matches”
February 7, 2010
Without any intention of showing off which is quite habitual at times with my life (in a humble way), being outside of my country, or i should say my first and closest macro imagined community, has always been giving me a series of exciting new perspectives and understanding (and misunderstanding) about ourselves, our country, and our world. Yes guys, this writing isnt about away matches as in football matches, but this is about away as in being abroad-outside of our countries, and “matches” as i believe every stage in our live should always be one small path of match or game towards more understanding (winning) and/or more misunderstanding (lost) which happens interchangebly.
During my first away matches, which was completed aout 4 years a go, i learnt for the first time that the world is indeed full of universalism yet at the same time we are all very unique, different. I learnt that the medium among society sometimes fails to represent the actual facts. I leart that what they call as “western war-monger” are actually peace-loving. I leart that what they call as “champions of individualism” is actually one of the most communal society that I know. All in all, my first away matches, gave me a lesson of humanity.
Then several years later, i cant believe i’m in yet another away matches. This time i am more pragmatic and matured (i think). I already leart that life is sometimes more suitable to realist world. Men can be bad at times. Afterall, the universalism of humanbeing good faith is equal to humanbeing bad faith, and its a simple fact. I cant believe my mind has been fed with a bit more predispotition, more barrier that i thought i had. That’s what happens when you dont bring your mind outside your box for a while, yes, your mind starts generating more barriers.
The second away matches isnt finished yet. It’s barely finished its first half. But i can sense that there’s more of a realism lesson out if this match. I can sense that we ought to fight our way to get a place in this world. This should be a counterbalance towards my first away lesson, i figured. However, for now, i still have to continue this second match. Hopefully, i can always follow this with many many more matches. And i hope the more matches i play, the more winning i get (more understanding instead of misunderstanding).
Sorry for being abstract, but im sure you’ll get it. Cheers.
Rame-Rame Gerakan Mahasiswa
February 2, 2010
Artikel ini ditulis dengan motivasi agar mahasiswa di Indonesia, setidaknya mahasiswa di UI mendapatkan sedikit lagi gambaran apa sih sebenarnya yang disebut dengan “gerakan mahasiswa”, yang akhirnya membuat kita semua jadi sedikit lebih peduli untuk ngelakuin sesuatu. Dorongan lain adalah istilah “gerakan mahasiswa” yang, menurut saya setidaknya, sudah mendapatkan “tempat khusus” yang tidak begitu positif dengan terus diasosiasikan dengan demonstrasi atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya politis. Keterlibatan saya dalam waktu singkat di beberapa organisasi kemahasiswaan kaya BEM juga menjadi motivasi tulisan ini supaya BEM UI bs lebih mampu menempatkan diri sesuai konteksnya di Indonesia yang kayanya (dan harusnya on the move) ini.
Pertama, ada beberapa hal yang udah berubah sama keadaan kampus kita ini dengan jaman-jaman sebelumnya, termasuk dgn jaman kemerdekaan (ya iyalah), jaman 1966, jaman 1998 dan harusny sih sama jaman2 2000-2004. Perbedaan pertama itu adalah makin banyaknya organisasi atau perkumpulan yang berdasarkan minat dan bakat mahasiswa. Dulu, sepertinya (maap klo sok tau) yang populer dan utama model-modelnya senat, kelompok-kelompok politik model Kammi,gmni,hmi,dll; perkumpulan-perkumpulan olahraga dan seni, grup pencinta alam model mapala. Turun-temurun kayanya organisasinya itu terus secara konsisten. Grup-grup ini selalu jd “trademark” buat istilah “aktivis”. Sekarang, grup-grup ini makin banyak, baik dr jumlahnya ataupun dari peminatannya. Senat atau BEM ga lagi jd idola atau malah sering disebut ga penting. Cukup cari temen lebih dari 10 orang dan udah bs bikin perkumpulan tertentu. Klo ngutip kata-kata di HI, terjadi proliferasi organisasi dan network.
Perbedaan kedua adalah kelas-kelas grup-grup itu jd lebih menyebar, engga lg ada kesan satu perkumpulan atau organisasi lebih “berkelas” dibandingkan organisasi lainnya. Hidup dan mati satu perkumpulan itu ya ditangan orang-orangnya sendiri. “Delinking” atau ketidaknyambungan atau “idup sendiri-sendiri” ini cukup terasa. Misalnya waktu itu, saya pernah dicuhati salah-satu anggota grup choir UI yang kabarnya sedang dililit kesulitan keuangan. Masalah yg sebenernya sangat mungkin terjadi dgn hampir seluruh grup ini ya diperjuangkan habis2an oleh grup choir itu sendiri dengan mencari advokasi kepada rektorat. Entah berhasil atau tidak, yg jelas menurut saya, kesulitan itu akan lebih mudah teratasi bila, organisasi-organisasi lain atau minimal yang sejenis di bidang seni menganggapnya sebagai “persoalan bersama” bukan masalah grup itu aja.
Ketiga, maapin klo saya ga ada angka pastinya, tapi bedanya organisasi/grup mahasiswa jaman sekarang itu makin bs nge-attract banyak partisipan/anggota dengan seberapa besarnya organisasi itu bs relevan dgn perkembangan personal atau karier mahasiswa. Makin besar relevansi nya makin gede peminatnya. Mungkin beberapa kalangan mencibir sebagai “CV seeker” tapi itu kenyataannya dan cukup positif juga. Lihat aja peminat AIESEC dengan peluang ke luar negeri-nya, EDS dengan peluang link kompetisi dan link network yang sangat baik, belum lagi MSS di manajemen, panitia Bedah Kampus dengan keuntungan sangat besarnya. Intinya, semakin besar peluang mendapatkan pengalaman, link, network, makin “laku” organisasi itu sekarang.
Perbedaan selanjutnya adalah metode dalam beraktivitas yang makin bermacam-macam.Cukup dgn membuat “event” di facebook yang dipoles dengan iming-iming sertifikat dan makan siang gratis, sebuah acara seminar biasa-biasa aja bisa mendatangkan banyak peserta. Beragam workshop, training, kunjungan, dilakukan utk beragam isu, dr mulai konservasi lingkungan, sampai sekadar fund raising. Bisa kita liat bahwa banyak kegiatan itu adalah untuk meng-attract partisipan, selain tentu saja untuk goal utama kegiatannya. Organisasi-organisasi atau grup-grup ini berkompetisi.
Ada beberapa konsekuensi logis dari berubahnya jaman skrg. Pertama, organisasi/grup di kampus musti kompetitif dengan nunjukkin relevansinya utk perkembangan mahasiswa. Personal gain untuk mahasiswa semakin harus ditunjukkan,ga bisa lg cuma untuk “mengabdi” atau altruistik melayani dengan ikhlas. Kedua,metode beraktivitas (atau “bergerak” kalau ngikutin istilah aktivis tradisional) semakin beragam. Kita juga skrg musti paham utk tidak lg mengasosiasikan kata “gerakan” dengan keadaan mahasiswa berjaket kuning berbaris di jalan dengan salah satu pemimpin mereka berada di depan mobil sound. Konsekuensi lainnya adalah semakin pentingnya “network” dan bidang “penelitiandan pengembangan” (R&D istilahnya) buat organisasi. Organisasi ga bs lg ngandelin anggotanya doang. Dia musti ngembangin sayap yang juga berguna utk menghubungkan organisasinya dengan dunia kerja sebenarnya. “Linkage” dengan dunia kerja inilah yang seringkali dilupakan, terutama oleh lembaga-lembaga kampus yang lama macamnya BEM.
Pepatah di jaman sekarang katanya “either you compete or perish”. Ini juga yang saya sangat harapkan dari organisasi BEM. Ga bisa lagi kita eksis di dunia pergerakan mahasiswa yang makin beragam dan makin kompetitif ini dengan “menjual” pelayanan tanpa pembelajaran, jargon “berjuang untuk rakyat atau berjuang bersama rakyat”. Metode beraktivitas yang beragam, network, dan linkage dengan dunia kerja adalah sebagian kecil hal yang harus digarap oleh penggiat BEM UI skrg yang digarap dengan maksimalisasi fungsi Litbang utk bisa menangkap kebutuhan itu. Fungsi BEM sebagai fasilitator atau jembatan organisasi-organisasi yang banyak itu juga salah satu area relevansi BEM UI.
Krugman’s Revolutionary movement, Tarbiyah dan Politik Kampus
January 24, 2010
Prewords : tulisan ini mungkin sangat ofensif utk beberapa kalangan (for the worst) dan sensitif (for the best). Harap dimengerti bahwa tulisan ini mencoba utk memahami secara akademis (sesuai dgn kapasitas penulis) dan secara subjektif tentu saja dalam memahami arah pergerakan tarbiyah di BEM UI. Tidak lain didasari oleh kepercayaan penulis yang sangat tinggi bahwa semangat pluralisme dan nilai-nilai kebebasan negeri ini perlu dipreserve dari beberapa gerakan2 yg tidak sejalan dengannya, dan lebih banyak masyarakat (terutama mahasiswa dalam hal ini) perlu tau dan paham ttg hal ini. Penulis tidak mengklaim sebagai yg paling paham dan tau, pun penulis tidak mengklaim diri sebagai yg paling sekuler atau paling menjunjung kebebasan. After all, we’re all human with all the developing thought embedded in our very presence.
Ayo kita mulai,
Panjangnya pembukaan tulisan ini di atas sebenernya menggambarkan ketakutan saya utk mengangkat hal ini. Disamping dikarenakan pemahaman saya yang sangat terbatas ttg tarbiyah juga karena “practical implication” yg mungkin terjadi di realitas praktis, maklum, seorang pendukung seorang “politisi kampus” akan sangat mudah dikorelasikan sebagai “sikap” politisi yg didukungnya tersebut, padahal sikap ini memang (mungkin) berbeda sangat dengan pemikiran seorang Imaduddin Abdullah atau Choky Ramadhan. Tapi saya berfikir, justru disanalah keindahan kebebasan berpikir yang telah mendukung Indonesia sebagaimana ia telah mendukung Amerika Serikat dalam perkembangan (dan keterbelakangannya). The only tyrant that we all should accept is afterall our own mind, so be it. Gada orang terlalu bodoh utk mengungkapkan pemikirannya.
Pemikiran saya terinspirasi dari buku “the great unravelling” tulisan Paul Krugman tahun 2000-an. Dalam tulisan itu, Krugman menceritakan panjang lebar mengenai “gerakan revolusioner” konservatisme yang menjadi basis kepemimpinan dan karier George W. Bush. Krugman memaparkan bahwa gerakan konservatisme yg dimulai sejak era 1970-an di era Ronald Reagan. Sentral dalam thesis Krugman tentang gerakan konservatisme yang katanya “revolusioner” adalah bahwa gerakan ini bukan gerakan biasa, ada yg spesial mengenai gerakan ini. Buat kalian yg ga “mudeng” ttg konservatisme, gerakan ini percaya secara radikal mengenai peranan yang minimal dari pemerintah pusat, mereka percaya bahwa manusia harus dibebaskan dari segala peraturan pemerintah, jd kebijakannya itu model tax cut, pemotongan subsidi negara, dan laissez faire; apapun keadaan yg dialami masyarakat manapun. Masyarakat ga bisa cukup menganggap perilaku atau manuver mereka sebagai “bussiness as usual” atau “just another politician”. Ada beberapa hal yang membuat mereka sangat revolusioner :
- jangan berasumsi kebijakan mereka itu sama dengan alasan yang mereka nyatakan. Apapun yg mereka katakan, selalu berujung pada pemerintahan yg minimal. Jd apapun alasannya, mereka akan mencari justifikasi praktis ide2 konservatis mereka akan terpenuhi.
- coba teliti lebih jauh sebenernya keinginan atau goal akhir mereka itu apa
- jangan berasumsi “bussiness as usual” atau aturan2 baku organisasi/institusi akan tercipta
- kalau ada yg ga setuju dengan mereka, bersiap2lah akan diserang balik
- jangan harap ada batas pada goal gerakan mereka…sampai kapanpun mereka akan berlaku seperti itu
Karena tulisan ini bukan ttg politik ekonomi dunia, saya ga akan menjelaskan panjang lebar mengenai poin2 tersebut di atas dalam dunia politik-ekonomi internasional atau AS. Tp satu hal yg mengejutkan saya adalah, betapa banyak prinsip2 tersebut yg ter-apply dalam tindak tanduk politik kampus di UI, secara spesifik mengenai gerakan tarbiyah.
Buat yang belum mudeng gerakan tarbiyah, saya akan coba jelasin (mungkin saya bukan orang yg paling tepat utk menjelaskan hal ini, tp kyanya mereka ga pernah tuh mempublikasikan gerakan ini; sesuatu hal yg semakin menyamakan mereka pada gerakan revolusioner konservatif di AS). Ketua BEM UI sebelum Imad sampai reformasi itu adalah berasal dari gerakan ini. Mereka (semoga saja benar) bertujuan utk meletakkan dasar-dasar nilai Islami pada setiap sendi gerakan kemahasiswaan (termasuk BEM, DPM, dll). Secara praktis, gerakan ini diterjemahkan dengan “proyek” menempatkan wakil-wakil mereka di seluruh gerakan kemahasiswaan. Hal ini yg membuat saya berasumsi bahwa ya pada akhirnya tujuan akhir mereka adalah kekuasaan, same old politican no? Secara reguler, mereka selalu memproyeksikan kader-kader mereka utk menjadi ketua bem melalui proses seleksi internal utk kemudian menjadi maju bersaing dalam kampanye formal. Mereka juga tak lupa mempersiapkan ketua panitia pemira atau tim-nya utk memastikan proses berjalan mulus. Dalam proses-nya tak lupa, mereka akan men”disiplinkan” kader-kader mereka yang malah membantu kandidat lain, seperti ketika Pandu U. Manggala yang dibantu oleh Kak Ivan Ahda (kalangan tarbiyah). Moreover, gerakan ini secara kultural berada dalam arahan Partai Keadilan Sejahtera. Ok saya cukupkan disini, mungkin penjelasan tarbiyah bs kalian dapatkan sendiri.
What astonished me most adalah betapa aturan2 Krugman tersebut apply dalam gerakan tarbiyah. Ttg prinsip, jangan naif dengan alasan mereka (aturan nomor1), hal ini terlihat jelas dgn insiden aksi demonstrasi yg dilakukan ketika zaman pemilu kemarin. Keputusan utk aksi tersebut janggal karena banyak pengurus BPH BEM UI yg tidak tau alasannya, dan hanya sebagian ketua BEM fakultas yg nampaknya “unanimously” agree utk aksi. Alasan pun banyak dikeluarkan, dari yg mulai menjaga proses pemilu (pdhl udh ada program Pokja yg entah juntrungannya apa) sampai dr penjagaan isu lingkungan yg diinginkan oleh ketua BEM MIPA saat itu (disampaikan saat beliau berkampanye utk jadi ketua bem). Prinsip Krugman nmr 1 ini berkaitan dgn prinsip Krugman no.2, teliti lebih jauh keinginannya apa. Ternyata, arahan utk aksi demonstrasi tersebut sudah “diarahkan” oleh PKS (ya…the party), salah satu teman saya menyaksikan sendiri presentasi arahan tersebut. Para Ketua BEM Fakultas dari Tarbiyah secara sistematis dan terencana berbagi peran utk dibuat seolah2 aksi demonstrasi adalah keinginan kolektif dengan memberikan alasan dan justifikasi masing2 saat rapat. Ketua BEM UI pun mengatakan bahwa aksi adalah dorongan dari fakultas.
Kenyataan tersebut mendorong pada aturan Krugman no.3, yaitu jgn berharap pada praktik institusional yg play by rules. Proses diatas menunjukkan bahwa sebenernya, logika insitusi biasa ga bs menjelaskan proses itu. Salah seorang korbid pun mengatakan bahwa “kalau menyatakan bahwa aksi demonstrasi itu pesanan PKS, buktikan secara fisik”. Yaa mau sampai lebaran kapan pun, ga akan ada buktinya. Sebagai mahasiswa sosial, kita tentu faham bahwa hubungan itu tidak selalu institusional, akan tetapi bs secara kultural dimana hierarki sangat mungkin presence. Penjelasan sesuai aturan akan selalu ada, tp kita tentu paham bahwa itu hanyalah “made-up” justification. Logikanya gampang, jika usul aksi muncul dr ketua bem bukan tarbiyah dan bukan ttg isu pemilu, apakah proses tersebut akan berujung pada hal yg sama? i doubt it very much.
Lebih jauh lagi, kita harus liat pada aturan Krugman no.3 dan 4, yaitu jangan berharap gerakan ini akan “mengampuni” “deffectors” atau bahasa mereka “pengkhianat” (bahasa arabnya lupa). Lihatlah apa yg terjadi dengan kalangan2 Tarbiyah yg memutuskan utk tidak setia pada kandidat “pilihan” tarbiyah, seperti Kak Ivan misalnya, yg menurut “katanya” sudah ga dianggap lg. Atau Bhakti Eko Nugroho yg ingin maju sendiri sebagai MWA UM melawan kandidat tarbiyah, dan dianggap sebagai “pengkhianat” jamaah. Once you deffect, you’re out and never expect to get back. Dan plus, aturan Krugman ke-4, dimana goal mereka tidak pernah ada habisnya. Tarbiyah akan selalu berevolusi dalam cara dan akan selalu mencoba utk kembali. Dari sumber yg sangat confidential, saat ini Tarbiyah bahkan sedang menyusun strategi utk memenangkan kembali kepemimpinan organisasi kemahasiswaan (BEM UI) 2011. Mungkin inilah mengapa mereka memutuskan utk tdk mengirimkan wakil2 mereka pada BEM UI pimpinan Imad. Mereka mungkin berpikiran utk wait and see, once Imad made mistakes, its open for exploitation for next campaign trails.
So, this is just a small piece of the dynamics of Tarbiyah. Saya yakin masih banyak lg contohnya. Ada beberapa poin yg menurut saya perlu ditekankan.
- terlepas dr ketidaksetujuan saya (atau kamu) pada tarbiyah, we can not and should not hate or ban them. Their very presence is basic fact. Alienating them is one fool move. Kita harus menerima keberadaan mereka dan mencoba utk memahami lebih jauh. Masalah setuju atau tidak ya terserah, kalau saya sih sangat tidak menyarankan, karena cara2nya yg nampaknya tidak jauh beda dgn gerakan konservatisme Bush.
- More people should know more about this, including me. Karena dasar dari berkembangnya gerakan ini tidak lain tidak bukan adalah karena ignorance kalangan kebanyakan pada masalah2 kampus dan ga peduli sama tarbiyah, so we let them lead and become how and what they are now. We all play our part. Coba kalau gerakan lain lebih peduli utk scrutinize tarbiyah, mungkin mereka ga akan se-discrete spt sekarang.
- Utk kamu yg meragukan paparan saya di atas, mungkin salah saya. Tp please dont stop finding out. banyak kalangan moderat yg netral berfikir positif, tp guess what, the Krugman rules apply! kalangan tarbiyah akan selalu punya model penjelasan yg discrete dan penuh institution-minded explanation (spt penjelasan ketika aksi).
- Khusus utk kalangan tarbiyah, i hope this writing is not perceived as a call of hatred. This is a call for you to open up, not just your mind but your heart. You can see me as one secular-full of hatred-unreligious and non-sensitive creature, but hey…how many really care about you right now? if you ever believe your mission, no man on earth is fool enough not to get your “real” goal.
Semoga tulisan ini menimbulkan pencerahan. Saya secara pribadi menganggap bahwa gerakan tarbiyah adalah ancaman terhadap insitutional building dan fondasi negara kita (BEM UI kita) karena institusi BEM (atau bahkan negara mungkin) hanya dianggap sebagai “media” atau instrumen utk misi-misi yg menurut mereka kita belum “cukup umur” utk memahami.
Baswedan-Inspired Way of Fixing Indonesia : Kasus Century dan BEM UI
January 24, 2010
Sebelumnya, thanks to Natasha Virzana for pointing out the magnificent thought of Kak Anies Baswedan. Its trully inspiring dan gw yakin lebih banyak orang perlu lebih banyak tau ttg (mengutip Titis Andari), the beautiful atlantis of AFS.
Kak Anies Baswedan punya pikiran, utk sebelum memperbaiki Indonesia, seorang Indonesia perlu terlebih dahulu melihat “barang” Indonesia yang super luas dan super kaya itu dari “luar”. Dengan men-”dettach” diri tersebut, kita jadi lebih punya gambaran atau perspektif mengenai bagaimana sebaiknya memperbaiki bangsa ini. Perlu ditekenin kalau pikiran ini ga bersifat “one fits all”, karena namanya jg “ngeliat” barang yang sebesar Indonesia, kita akan ngeliat satu bagian dari Indonesia yang luas, jd ya yg kita perbaiki bagian yg kita liat itu aja, sesuai dgn peranan kita. Dengan “detachment” ini, seorang Indonesia akan melihat Indonesia dengan sedikit lebih bijaksana dan dengan perbandingan pandangan bangsa lain. Diharapkan the big picture akan lebih terlihat. Memang sesungguhnya, akan sangat sulit memperbaiki sebuah rumah apabila kita melihatnya dari dalam, karena disamping suka ribut sendiri sama seisi rumah, kita jg gada “the big picture” dan gada perbandingan. Apalagi yg diliat adalah “rumput2 tetangga” yang emang selalu lebih hijau.
Mungkin pemikiran inilah yg skrg ini kita sangat butuhkan. Kegaduhan di dalam negeri yang kini sangat dipenuhi oleh aura negatif. Kasus Century yg dijadikan alat politikus dalam negeri dan pihak2 pengekornya (yg banyak di antaranya mahasiswa sayangnya) dan semangat organisasi kemahasiswaan yang menurut saya sangat out of date akan saya jadikan kasus. Pemikiran Baswedan sangat tepat utk mem-frame pemikiran tersebut. Tampak jelas bahwa aktor2 di kedua hal tersebut sangat “mumet” “sempit” dan stuck in the box.
Utk kasus Century, seharusnya, bangsa Indonesia sudah “menangkap” sinyal dunia internasional yang sudah menempatkan Indonesia sebagai emerging giant. Posisi Indonesia sangat baik sekarang ini, krisis ekonomi 2008 terlewati dgn lancar, cuma bareng India dan China yang ga kena parah. Harusnya ini dijadikan kick start yang ok utk semakin berlari. Tapi apa yg terjadi? dunia politik domestik kita malah saling sibuk menjatuhkan. “Myopi” politikus terjadi lagi utk kepentingan sesaat. Politikus-politikus macam Bambang Susatyo, Gayus Lumbuun, dan Maruar Sirait adalah sebagian dari politikus2 yg myopi tersebut. Lebih parah lg, banyak kalangan yang katanya “ilmuan” macam Hendri Saparini, dan Ichsanudin Noorsyi mendukung proses ini. Hal ini diperburuk dgn kalangan mahasiswa yg masih saja terbelenggu oleh beban masa lalu abang2nya yang (dengan segala hormat) menanamkan betapa baiknya beroposisi pada pemerintah apapun yg dilakukannya. Kapan kita akan berlari bila belenggu belenggu ini masih akan terikat kencang pada leher Indonesia ini? Mampukah kita menangkap sinyalemen dari dunia Internasional ttg Indonesia? Atau kita akan membiarkan dunia Internasional utk menyusul kita (lagi) sementara kita sedang asik bunuh2an sesama kita?
Hal yang sama terjadi dgn BEM UI. Mungkin banyak yg akan mengatakan saya tidak punya cukup sensitivitas atas pernyataan saya berikut, tapi menurut saya ini cukup penting. Dari taun ke taun…BEM UI terbelenggu dgn isu-isu domestik UI (bila tidak diantara mahasiswa sendiri). BOPBBBBBB truuuuussss… Kalangan pembela mungkin mengatakan bahwa isu ini penting dan tetep juga memperhatikan isu lain. Tp menurut saya, “obsesif kompulsif” kalangan pergerakan ini sudah parah. Seakan2, isu BOPB adalah isu yang paling vital. Saya tidak mengatakan bahwa isu ini ga penting, tp isu ini telah membelenggu BEM UI. Kita telah kehilangan waktu, tenaga, pikiran utk meningkatkan kompetitifan dan posisi mahasiswa UI secara umum dalam memperbaiki Indonesia. Ya secara khusus saya menunjuk hidung pada kalangan Tarbiyah sebagai “partai” utama yang menciptakan kondisi seperti ini. Obsesif kompulsif BEM UI pada kasus BOPB ini menruut saya turut menyumbang “malasnya” antusiasme mahasiswa (bila bukan masyarakat secara umum) pada organisasi BEM UI. Sikap terhadap BOPB ini menjadi semacam ladang subur radikalisme sifat mahasiswa vis a vis kalangan pengambil kebijakan (be it rektorat atau pemerintah). Dimanakah peran kita sebagai MITRA positif pemerintah dan pengambil kebijakan rektorat?
Secara khusus, utk BEM UI, saya akan menyoroti tidak adanya kalangan “dettached”, kalangan di luar BEM UI yang menyumbangkan pikiran dan ilmu pada pengembangan kebijakan BEM UI. Bila kita masukan pada pemikiran Anies Baswedan, kita perlu orang2 ter-dettached ini utk melihat BEM UI dari perpektif “luar” karena ketika sudah di dalam, logikanya sudah berbeda lagi tentunya. Fungsi Pusgerak tidak dapat kita harapkan utk hal ini karena logika “orang dalam”-nya tersebut. Perlu adanya inisiatif utk institusionalisasi “outside thinker” ini.
Semoga tulisan ini menjadi sumbangan pikiran yang menyegarkan dan membebaskan. Special thanks to Kak Anies Baswedan.
UI Summit, Supaya Tidak Amit-Amit
January 22, 2010
UI Summit!!!
dulu sempet ada Konferensi Gerakan se-UI, trus Forum Sinergisasi. Barang yg lama,tp kemasan (dan moga-moga hasil dan prosesnya) berbeda.Bem UI 2010 sepertinya (ini asumsi yg dibuat 1-2 bulan yg lalu) berharap besar UI Summit ini menjadi gebrakan baru, bukan hanya utk BEM UI 2010, tp utk UI dan negara selama setahun kedepan. Mungkinkah?
eits,bentar…sejauh yg saya bayangkan,mungkin masih banyak mahasiswa yg ga “ngeh” UI Summit atau KGUI itu apaan?naah,ini yg gw takutin.Tulisan ini pada intinya ngebahas kekhawatiran itu.Program besar,resource besar,harapan besar,tp output dan prosesnya akan seperti cerita berulang kembali.
Sejauh yg saya tahu dan pahami, UI Summit (atau apa pun namanya) adalah sebuah forum sinerginasi semua stakeholder mahasiswa UI utk beraktivitas kedepannya.Hal ini dilatarbelakangi oleh Mahasiswa UI yg plural dengan banyak potensi, jd biar maju makanya musti gerak bareng sinergis.Harapannya gada lg gerak sendiri2.Gada lg anak OR pengen fasilitas diperbaiki tp dicuekin sama yg hobinya nuntut SBY.Gada lg kalangan ekstra kampus punya pendapat tp digaringin sama anak seni karna ga ngerti.Gada lg BEM UI yg punya agenda kesma sendiri tp paguyuban cuma jd penonton. Itulah sebabnya, di UI Summit BEM UI 2010 nanti, stakeholder yg diundang, sepanjang pengetahuan saya, lumayan komprehensif. Dr mulai kelompok ekstra, seni, OR, demonstrator rutinan, akademisi, dll. Cuma anak Kupu-kupu aja kayanya yg ga diundang (mkanya anak kupu2 harusnya bikin paguyuban spy jd pressure group).
Mulia? sepertinya,tp tahan dulu, ada beberapa catetan…
Pertama, keterlibatan kelompok yg sangat plural dengan beberapa diantaranya adalah kelompok2 yg baru di-inklusif-kan, bukanlah perkara mudah. Setiap kelompok biasanya ada “frekuensi” sendiri.Belum lg ada kelompok yg berfriksi dgn yg lain, seperti tarbiyah yg (mungkin) ga sreg dgn kelompok ekstra dan udh mulai wanti2. Keterbukaan pikiran dan toleransi kelompok-kelompok di UI akan diuji.
Kedua,dikhawatikannya isu-isu yg muncul jg sering menimbulkan kesulitan sendiri dr berbagai pihak. Kadang isu Kesma dgn isu idola semua umat (BOPB) dan isu meneriaki pemerintah (dgn segala juntrungannya) lebih disoroti banyak pihak dan berpotensi menimbulkan huru hara (smoga tidak terjadi).Saya berharap bahwa justru UI Summit adalah peluang utk mengarusutamakan isu-isu yg selama ini ga pernah didengar, seperti UKM-BO dan paguyuban. Atau kebijakan akademis UI misalnya. Kini mendapat “ruang lebih” di event rembugan terbesar mahasiswa UI. Patut diperhatikan dalam hal ini seberapa besar kepemimpinan BEM UI dan seberapa besar “intensi utk bersinerginya” kelompok2 plural di UI.
Ketiga,perjalanan isu yg ga jelas juntrungannya. Kesepakatan ttg isu-isu dibuat, trus gatau kemana kabarnya. Perlu diperhatikan institusionalisasi UI Summit utk proses evaluasi capaian. Percuma rasanya kalau kita heboh di pencanangan tp adem ayem di pelaksanaan dan evaluasi.
Saya teringat sebuah pendapat yg dikemukakan oleh Walter Mattli dan Ngaire Woods ttg global governance yg mnrt saya relevan utk UI Summit ini. Sebuah institusi/upaya pengaturan/sinergisasi memang memerlukan transparansi,keterlibatan banyak pihak,dan forum evaluasi. Tp itu saja ga cukup, perlu adanya informasi cukup utk publik secara umum ttg isu-isu yg dibahas, motivasi publik yg cukup,dan ide-ide baru dr publik. Jd supply (UI Summit yg inklusif) harus diimbangi oleh demand (sikap publik dan pengetahuan publik ttg isu-isu).
Berkaitan dgn itu, saya takutnya, UI Summit cuma akan jd sebuah forum yg mirip pedagang i-phone di antara penduduk buta huruf. Siapa peduli?
Imaduddin Abdullah dan Barrack Obama
January 11, 2010
Ni baca deh ada komentar :
“gw termasuk yg udah males mikirin bem ui, tp ngeliat pasangan ktua baru ini, ada sdikit harapan biar gw bs ngerasain cita rasa baru dr bem ui. dan memang yg gw mksd ya bner2 baru.”
Imad yang walaupun gerak gerik, lingkungan, dan tingkah hampir saru dengan tarbiyah tp whatta heck dia bukan tarbiyah, mnurut gw, mirip2 sama Obama. Dianggap sebagai harapan baru atas BEM UI yang kacau beliau, harapan atas rakyat AS atas kekisruhan krisis global dan perang Iraq-Afghanistan.
Obama adalah presiden dengan popular votes tertinggi 2 dekade terakhir, mengawali kepemimpinan dengan tingkap approval rating tertinggi. Harapan atas Imad yang mengakhiri kepemimpinan Tarbiyah yang ghoib (ada tp gada, gada tp ada) juga tinggi banget sampe kaya ada komentar kaya di atas tadi. Ini baru persamaan pertama.
Kedua, sejauh yang gw tau, ada rumor, katanya kelompok tarbiyah gamau ikutan bem-nya Imad (rumor maap). Nah, kalau begitu ini mirip juga dengan Obama, dimana Partai Republikan yg dikalahinnya menganut asas PDIP, asal tolak proposal kebijakan Obama. UU Jaminan Kesehatan AS aja ga didukung sama sekali sama Republik, padahal dukungan rakyat AS akan perlunya Health Care Reform itu gede banget. Apa boleh buat, pemerintahan AS skrg praktis adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk Demokrat. Utk Imad, masih perlu diliat gmana kelanjutan Tarbiyah ini. Yg jelas, sebagaimana tujuan Republik menolak Obama habis2an, tujuannya adalah 2012, shingga dgn mudahnya “tuh kan kalau gagal Obama sih gerak sendirian”. Mungkin Tarbiyah juga berfikir demikian.
Skrg approval rating Obama menurun drastis, salah satu yg terendah di sejarah presiden AS dgn rentang waktu yang sama. Apakah Imad akan mengalami hal yang sama?
BEM UI itu berdiri dimana?
January 11, 2010
Walaupun jarang-jarang saya simpati sama pemikiran BEM UI sebagai organisasi pergerakan, ok lah saya pakai juga akhirnya frame berfikir tersebut. BEM UI sebagai organisasi pergerakan, pressure group, yg emang fungsi utamanya adalah presurre group mereka yang berkuasa, entah itu rektorat atau pemerintah (dr sini aja ga jelas sebenarnya).
Teringat comment salah satu temen di facebook yg bilang kalau ideologi BEM UI itu ya yg penting demi kesejahteraan rakyat dan keadilan. Its really everything, anything, but nothing! rakyat yang mana? ok lah bantu yg miskin, tp kan negara ini dibangun utk yg kaya dan yg miskin. Kesejahteraan dengan cara mana? standar mana? smuanya ini kan tergantung dgn kacamatanya, klo kacamata yg basi ya paling mau liberal, hijau, atau sosialis misalnya.
Kejelasan kacamata yg dipakai ini belum pernah ada sebelumnya. Atau emang dianggap ga penting. Padahal dgn gada kacamata bersamanya ini, smua isu genting jd bingung menilainya. spt BOPB, UU BHP, dll. Sepertinya, BEM UI hendak menyenangkan semua pihak, tampak netral, mengayomi semua, dengan cara…tidak mengayomi semua, tidak netral, dan tidak menyenangkan siapapun. (inget konteksnya gerakan).
Coba bandingkan dgn greenpeace, IGJ, ICW, mereka jelas gtu lho, sosialis kah, liberal kah, green kah. BEM UI ini mau berdiri di mana?
BEM UI Post BOPB
January 11, 2010
Walaupun dikritik habis-habisan oleh ekonomis Paul Krugman melalui bukunya Pop Internationalism, pandangan yang menyatakan bahwa dunia pada saat ini dipenuhi dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi sehingga berlaku prinsip “you need to compete or perish” menurut saya masih perlu disimpan dibenak setiap manusia, terutama di negara-negara berkembang, atau di negara yang sudah menengah akan tetapi penduduknya terkadang meng-under-estimate bangsanya sendiri, penduduk Indonesia. Nah di tulisan ini, gw mau ngelaborasi lebih jauh ttg pentingnya ngembangin kompetitifness Indonesia, yaa gausah jauh2 deh, dimulai dr organisasi yg gw rada familiar, bem-bem an.
Oya, sebelumnya, Paul Krugman bilang kalau masyarakat dunia itu salah ngerti dgn nganggap “daya kompetitif” sbg jawaban atas smua permasalahan ekonomi. Padahal, cara yg demikian itu nganggap negara sama dengan prusahaan yg jelas2 beda. Lagian, tingkat kemakmuran penduduknya itu ga ditentuin sama tingkat laku/ga nya produk mreka di pasaran dunia, msh banyak faktor lainnya. Ok lah, boleh…
Nah, tapi menurut gw, pesan Krugman itu musti hati2 dipandang sama orang kita. Jangan sampe mentang2 Paul Krugman bilang jgn terhipnotis sama kompetitivness, kita malah mikir ya gapapa lah Indonesia ketinggalan, kan belum tentu lebih bahagia juga. Justru menurut gw, pemikiran tingkat kompetitifness ini penting banget untuk orang Indonesia utk berpacu memperbaiki diri. Kenapa kompetitifness penting? ya utk pacuan/pemicu saja. Tentu masih banyak faktor lain, kaya pemerataan kesempatan (wow gw terdengar seperti sosialis brengsek), produktifitas domestik, tp tetep, kita musti gamau kalah sama negara lain.
Apa hubungannya sama BEM? mungkin jauh sih secara kasat mata, tp menurut gw, ga juga. Universitas juga kan termasuk salah satu yg perlu “kompetitif aware”, jd otomatis student body-nya juga musti ngeh. Banyak banget area dimana kita musti gamau kalah. Dunia ini ga lagi segede Depok-Margonda. Saatnya kita, bem ui, bergerak menggarap isu-isu yang sedang menglobal skrg ini. Kalau BEM nya inward looking, hanya pasrah pada Tuhan, puas dengan “rasa kekeluargaan” yang seringkali bertepuk sebelah tangan dengan ngerjain hal2 baru dengan cara baru bukan demo atau romantisme semu 1998.
Berkaitan dgn ini, saya sebut di atas “Post BOPB” karena BOPB menurut saya salah satu issu yg menghambat pikiran intelektual2 pergerakan mahasiswa di BEM dan sekelilingnya. BOPB truuuus yang diurusin. Seolah2 ia menjadi satu2nya isu yg dipentingkan. Pokonya, dosa besar kalau BEM UI ga ngurusin BOPB, tp ga masalah klo BEM UI abai pada PKM, ga masalah klo BEM UI ga mikirin klub-klub UKM-BO, ga masalah klo BEM UI ga ngedukung olahraga di UI. yg penting BOPB. Kita butuh BEM UI Post BOPB. Kita butuh proporsionalitas dalam mengembangkan organisasi ini. Bukannya BOPB harus musnah dari agenda BEM UI, tp sudah selayaknya, kita melihat hal2 lain selain BOPB.
Krisis Pergerakan Mahasiswa : perdebatan, bukan paduan suara
October 26, 2009
Di organisasi atau gerakan,kita pasti butuh banyak atau beberapa pandangan, entah itu sejalan atau tidak sejalan.Beragamnya pandangan atau pendapat ini bermanfaat selain untuk mekanisme self check and balance internal organisasi dan pergerakan, juga untuk memastikan output terbaik dari institusi itu, baik formal atau pun tidak.
Banyak contoh yang menegaskan argumen di atas. Kita ingat betul bagaimana pemerintahan George Bush Jr yang terlalu dikuasasi kaum neokonservatif seperti Wolfowitz atau utamanya Dick Chenney. Kalangan yang lebih moderat seperti Menlu Collin Powell pun hanya bertahan setengah dari era Bush. Hasilnya bukan hanya kebijakan yang terlalu kanan, tp juga legitimasi dr kebijakan itu sendiri menurun. Tapa berspekulasi atau menilai benar/salahnya kebijakan yang diambl, saya percaya kalau saja ada lebih banyak “suara” lain di dalam pemerintahan itu,output kebijakan di Iraq atau Afghanistan mungkin akan lain,mungkin…Atau contoh yang lebih dekat mungkin kombinasi antara SBY-JK yang oleh Effendi Ghazali katakan kombinasi antara “rem dan gas” dimana SBY berfungsi sebagai kendali dan harmonizer atas dorongan-dorngan kebijakan tembakan Kalla. Check and balance ini juga berfungsi untuk menambah kualitas output. Beda pendapat adalah wajar dan diperlukan untuk jalannya institusi.
Sekarang kita liat ke pergerakan mahasiswa sekarang. Apakah kita sudah punya banyak pilihan pandangan di atas meja?
Berdasarkan pengalaman saya yang sangat terbatas di dunia organisasi kemahasiswaan. Bila kita cermati perkembangannya sekarang ini, seperti dalam isu BHP, ekonomi seperti BBM atau BHP, atau KPK (apa saja lah), jelaslah dengan kontras pergerakan mahasiswa berada dalam kandang “penganut populis”. Penganut populis ini ekuivalen dengan pandangan “pemerintah yang besar” atau “pemerintah yang aktivis”. Bila saya tidak salah mengerti, UU BHP banyak dikritik “pergerakan mahasiswa” karena dirasa peranan pemerintah sengaja dikecilkan. BBM juga diprotes karena pemerintah dirasa tunduk pada kehendak pasar. dan begitulah serangkaian protes lainnya yang secara umum berbunyi “pemerintah seharusnya mengurus hal ini (dan itu)”.
Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu isu tersebut di atas atau berdebat apakah “kandang welfarist” yang “dianut” tepat atau tidak tepat. Saya hanya ingin menegaskan betapa seragamnya pandangan yang dianut. Pun bila pandangan welfarist yang dianut, kita semua selayaknya paham bahwa semenjak 1970, pemerintah tidaklah menjad “juru selamat” setiap permasalahan yang ada dan aktor-aktor domestik dan internasional sudah beragam dan semakin canggih, bahkan lebih canggih dr negara, seperti NGO atau pasar misalnya. Berdasarkan hal inilah,menurut saya, perlu ada lebih banyak “pilihan pandangan” dalam meja pergerakan mahasiswa.
Dampak lebih jauh dari terlalu seragamnya welfarist dalam pergerakan mahasiswa juga bisa bermacam-macam. Sebagai contoh,kita menjadi sangat mudah untuk menyalahkan pemerintah dalam jatuh bangunnya kondisi sekitar kita, sebuah budaya paternalistik yang harus dicegah. Ini juga berdampak pada mudahnya mahasiswa menjadi alat kekuatan politik yang kritis terhadap pemerintah yang ada. Selain itu, yang lebih fundamental adalah bahwa pemikiran mahasiswa yang menjadi “mentok” karena solusi dari semua permasahalan adalah “pemerintah seharusnya…”.
Sebagai penutup, saya berharap bahwa kelompok-kelompok pemikir mahasiswa dari berbagai aliran untuk lebih mengorganisasi diri dan bersuara dalam “dunia persilatan” mahasiswa. Ada banyak sekali aliran, nasionalis, komunis, religius, atau bahkan liberal mungkin? tidak ada aliran pemikiran mana pun yang paling benar sehingga perumusan pilihan “pergerakan mahasiswa” pun trbuka untuk kontestasi, tentunya dengan budaya persuasif yang konstruktif, bukan “akal-akalan politik murah a la mahasiswa” pastinya. biarlah suaranya saling beradu dan beradu dengan nyaring, bukan koor semata
Lebaran the Aftermath
October 26, 2009
Lebaran lagi…skrg 1430 H…
Banyak yg bilang kalau seharusnya ramadhan itu disedihi (forgive my grammar) ketika udahan. Umm…mungkin gw salah satu orang yg sering ngerasa ko biasa aja ya (forgive me again for lack of religious awareness), ok gw coba utk ga take it for granted. Anyway…
dari semua yg mnurut gw ga bs take it for granted adalah pas orang2 bilang minal aidzin walfaidzin, maaf lahir batin isnt that what it means? i guess…naah…this is where i want to make my point…
Tau kan klo kebiasaan kita orang nanya “apakabar”, atau” kemana” atau gmana td”? the funny thing is sering ketika gw seriusan nanya pertanyaan2 itu td…orang yg gw ajak ngomong ngeloyor doank…jalan aja gtu. Atau jawab sekenanya. Sialan..pikir gw…i meant that questions you people…kocak…tp bukan itu maksud gw. Mnurut gw,pertanyaan2 kaya gtu udah jd bagian dr norma basa basi di budaya kita. Orang ga gtu merhatiin lg. Yeah just another louzy (am i not?) person who were running out of conversation topic saying that to me cuz there arent any other thing to say. Itu udah kaya “adakadabra”,orang nyebut karna emang biasa disebut.
Gw takut “mohon maaf lahir batin” jadi yet another adakadabra.
Gmana engga?lebaran belon ada aja,sms yg minta maap udah banyak banget (bukan meninggi nih maksudnya,klo gw mau meninggi biasanya jelas ko). Ada yg pake bahasa plain maaf lahir batin…ada yg pake bahasa sunda (ada yg kasar banget dan halus banget sampe gw aja ga ngerti yg sgini sundanya)…ada yg pake bahasa jawa padahal tau gw ga ngerti (i dont even think the sender cares that much tho)…bahkan ada yg rada ngeres walopun intinya minta maap lahir batin. Nyokap gw lebih lucu lg…kayanya sms minta maap udah kaya ritual yg lebih nunjukkin ewuh pakewuh atasan bawahan. Another adakadabra in the making? rightly so…God knows orang2 ini ngucapin dr hati atau ya memang melaksanakan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat muslim yg senang menunjukkan bahwa dirinya muslim yg baik dengan minal aidzin walfaidzin-an. Apa orang2 ini akan minta maaf kalau bukan karna lebaran? he…pikiran yg nakal…
Kalau kita keluar dr dunia Islam sedikit aja,klo ngedenger kata Maaf, gw jd inget “sorry day”-nya Kevin Rudd buat minta maap ke suku aborigin yg udah disusahin sama orang2 kulit putih australia. Gw gakan into details of the politics behind itu,tp apa yg membuat ia spesial adalah pertama,jarang2 ada PM Aussie yg minta maap secara organisasi negara (pm howard aja ogah minta maap), kedua adalah cara minta maap nya yg emang spesial…bikin orang percaya itu dr hatinya. Rudd ga ngejadiin “sorry day” itu jd hari libur tiap taun (klo gus dur mungkin bakalan ya?). Menarik…coba kalau dijadiin tiap tahun tanggal sekian ada sorry day…would australian even bother next time around? atau radikalnya, would moslems bother more had “minal aidzin walfaidzin” said every once in ten years time?
Terlepas dr itu, gw tkt sama aja ber-adakadabra minta maap ria…tahun ini tahun yg lumayan banyak naek turunnya klo dipikir (gw gamau ke detail ttg ini). Ada yg pundung,ada yg marah,ada yg ga pernah gw denger lg kabarnya,ada yg ninggalin jejak buruk…
(20 detik diem dulu yah…mikirin kejadian2 atau orang2 disekeliling gw,bem,afs,kluarga,EK,humas,kgk,dosen,kucing,temen,temen sma,tetangga,fisip,muslim-non muslim)…
Minta Maaf ya buat semua salah. Moga sy jd bs lebih berguna lg.