Krisis Pergerakan Mahasiswa : perdebatan, bukan paduan suara

October 26, 2009 by patryapratama

Di organisasi atau gerakan,kita pasti butuh banyak atau beberapa pandangan, entah itu sejalan atau tidak sejalan.Beragamnya pandangan atau pendapat ini bermanfaat selain untuk mekanisme self check and balance internal organisasi dan pergerakan, juga untuk memastikan output terbaik dari institusi itu, baik formal atau pun tidak.

Banyak contoh yang menegaskan argumen di atas. Kita ingat betul bagaimana pemerintahan George Bush Jr yang terlalu dikuasasi kaum neokonservatif seperti Wolfowitz atau utamanya Dick Chenney. Kalangan yang lebih moderat seperti Menlu Collin Powell pun hanya bertahan setengah dari era Bush. Hasilnya bukan hanya kebijakan yang terlalu kanan, tp juga legitimasi dr kebijakan itu sendiri menurun. Tapa berspekulasi atau menilai benar/salahnya kebijakan yang diambl, saya percaya kalau saja ada lebih banyak “suara” lain di dalam pemerintahan itu,output kebijakan di Iraq atau Afghanistan mungkin akan lain,mungkin…Atau contoh yang lebih dekat mungkin kombinasi antara SBY-JK yang oleh Effendi Ghazali katakan kombinasi antara “rem dan gas” dimana SBY berfungsi sebagai kendali dan harmonizer atas dorongan-dorngan kebijakan tembakan Kalla. Check and balance ini juga berfungsi untuk menambah kualitas output. Beda pendapat adalah wajar dan diperlukan untuk jalannya institusi.

Sekarang kita liat ke pergerakan mahasiswa sekarang. Apakah kita sudah punya banyak pilihan pandangan di atas meja?

Berdasarkan pengalaman saya yang sangat terbatas di dunia organisasi kemahasiswaan. Bila kita cermati perkembangannya sekarang ini, seperti dalam isu BHP, ekonomi seperti BBM atau BHP, atau KPK (apa saja lah), jelaslah dengan kontras pergerakan mahasiswa berada dalam kandang “penganut populis”. Penganut populis ini ekuivalen dengan pandangan “pemerintah yang besar” atau “pemerintah yang aktivis”. Bila saya tidak salah mengerti, UU BHP banyak dikritik “pergerakan mahasiswa” karena dirasa peranan pemerintah sengaja dikecilkan. BBM juga diprotes karena pemerintah dirasa tunduk pada kehendak pasar. dan begitulah serangkaian protes lainnya yang secara umum berbunyi “pemerintah seharusnya mengurus hal ini (dan itu)”.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu isu tersebut di atas atau berdebat apakah “kandang welfarist” yang “dianut” tepat atau tidak tepat. Saya hanya ingin menegaskan betapa seragamnya pandangan yang dianut. Pun bila pandangan welfarist yang dianut, kita semua selayaknya paham bahwa semenjak 1970, pemerintah tidaklah menjad “juru selamat” setiap permasalahan yang ada dan aktor-aktor domestik dan internasional sudah beragam dan semakin canggih, bahkan lebih canggih dr negara, seperti NGO atau pasar misalnya. Berdasarkan hal inilah,menurut saya, perlu ada lebih banyak “pilihan pandangan” dalam meja pergerakan mahasiswa.

Dampak lebih jauh dari terlalu seragamnya welfarist dalam pergerakan mahasiswa juga bisa bermacam-macam. Sebagai contoh,kita menjadi sangat mudah untuk menyalahkan pemerintah dalam jatuh bangunnya kondisi sekitar kita, sebuah budaya paternalistik yang harus dicegah. Ini juga berdampak pada mudahnya mahasiswa menjadi alat kekuatan politik yang kritis terhadap pemerintah yang ada. Selain itu, yang lebih fundamental adalah bahwa pemikiran mahasiswa yang menjadi “mentok” karena solusi dari semua permasahalan adalah “pemerintah seharusnya…”.

Sebagai penutup, saya berharap bahwa kelompok-kelompok pemikir mahasiswa dari berbagai aliran untuk lebih mengorganisasi diri dan bersuara dalam “dunia persilatan” mahasiswa. Ada banyak sekali aliran, nasionalis, komunis, religius, atau bahkan liberal mungkin? tidak ada aliran pemikiran mana pun yang paling benar sehingga perumusan pilihan “pergerakan mahasiswa” pun trbuka untuk kontestasi, tentunya dengan budaya persuasif yang konstruktif, bukan “akal-akalan politik murah a la mahasiswa” pastinya. biarlah suaranya saling beradu dan beradu dengan nyaring, bukan koor semata

Lebaran the Aftermath

October 26, 2009 by patryapratama

Lebaran lagi…skrg 1430 H…
Banyak yg bilang kalau seharusnya ramadhan itu disedihi (forgive my grammar) ketika udahan. Umm…mungkin gw salah satu orang yg sering ngerasa ko biasa aja ya (forgive me again for lack of religious awareness), ok gw coba utk ga take it for granted. Anyway…

dari semua yg mnurut gw ga bs take it for granted adalah pas orang2 bilang minal aidzin walfaidzin, maaf lahir batin isnt that what it means? i guess…naah…this is where i want to make my point…

Tau kan klo kebiasaan kita orang nanya “apakabar”, atau” kemana” atau gmana td”? the funny thing is sering ketika gw seriusan nanya pertanyaan2 itu td…orang yg gw ajak ngomong ngeloyor doank…jalan aja gtu. Atau jawab sekenanya. Sialan..pikir gw…i meant that questions you people…kocak…tp bukan itu maksud gw. Mnurut gw,pertanyaan2 kaya gtu udah jd bagian dr norma basa basi di budaya kita. Orang ga gtu merhatiin lg. Yeah just another louzy (am i not?) person who were running out of conversation topic saying that to me cuz there arent any other thing to say. Itu udah kaya “adakadabra”,orang nyebut karna emang biasa disebut.

Gw takut “mohon maaf lahir batin” jadi yet another adakadabra.

Gmana engga?lebaran belon ada aja,sms yg minta maap udah banyak banget (bukan meninggi nih maksudnya,klo gw mau meninggi biasanya jelas ko). Ada yg pake bahasa plain maaf lahir batin…ada yg pake bahasa sunda (ada yg kasar banget dan halus banget sampe gw aja ga ngerti yg sgini sundanya)…ada yg pake bahasa jawa padahal tau gw ga ngerti (i dont even think the sender cares that much tho)…bahkan ada yg rada ngeres walopun intinya minta maap lahir batin. Nyokap gw lebih lucu lg…kayanya sms minta maap udah kaya ritual yg lebih nunjukkin ewuh pakewuh atasan bawahan. Another adakadabra in the making? rightly so…God knows orang2 ini ngucapin dr hati atau ya memang melaksanakan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat muslim yg senang menunjukkan bahwa dirinya muslim yg baik dengan minal aidzin walfaidzin-an. Apa orang2 ini akan minta maaf kalau bukan karna lebaran? he…pikiran yg nakal…

Kalau kita keluar dr dunia Islam sedikit aja,klo ngedenger kata Maaf, gw jd inget “sorry day”-nya Kevin Rudd buat minta maap ke suku aborigin yg udah disusahin sama orang2 kulit putih australia. Gw gakan into details of the politics behind itu,tp apa yg membuat ia spesial adalah pertama,jarang2 ada PM Aussie yg minta maap secara organisasi negara (pm howard aja ogah minta maap), kedua adalah cara minta maap nya yg emang spesial…bikin orang percaya itu dr hatinya. Rudd ga ngejadiin “sorry day” itu jd hari libur tiap taun (klo gus dur mungkin bakalan ya?). Menarik…coba kalau dijadiin tiap tahun tanggal sekian ada sorry day…would australian even bother next time around? atau radikalnya, would moslems bother more had “minal aidzin walfaidzin” said every once in ten years time?

Terlepas dr itu, gw tkt sama aja ber-adakadabra minta maap ria…tahun ini tahun yg lumayan banyak naek turunnya klo dipikir (gw gamau ke detail ttg ini). Ada yg pundung,ada yg marah,ada yg ga pernah gw denger lg kabarnya,ada yg ninggalin jejak buruk…

(20 detik diem dulu yah…mikirin kejadian2 atau orang2 disekeliling gw,bem,afs,kluarga,EK,humas,kgk,dosen,kucing,temen,temen sma,tetangga,fisip,muslim-non muslim)…

Minta Maaf ya buat semua salah. Moga sy jd bs lebih berguna lg.

how to reclaim student movement from the left aspiration

October 26, 2009 by patryapratama
Buku Conscience of a Liberal tulisan Paul Krugman yang dilanjutin dengan tagline “reclaiming america from the right” bikin gw kepikiran. Seperti biasa, Krugman, ekonom MIT nyeleneh ini menulis tedeng aling-aling menjelaskan bagaimana program big government era new deal bikin era amerika 3-4 dekade setelahnya jadi era paling makmur dalam sejarah amrik modern. Era “the great compression” -begitu Krugman nyebut karena gap kaya-miskin di Amrik menyusut drastis sejak program-program sosialis seperti Jamkesmas,jamsostek (a la amerika) diperkenalkan, terutama program infrastruktur FDR yang sangat Keynesian itu. Di akhir bukunya,Krugman juga lebih jauh ngedorong Obama skrg utk ga ragu-ragu mengambil alih sistem jaminan kesehatan dari swasta, agenda liberal yang seumur idup Ted Kennedy (alm) perjuangin (tp ga pernah sukses). Buku ini bener-bener jadi kampanye terbuka seorang akademisi terhormat pada agenda liberal-big government. Aneh juga kenapa Krugman ga dipilih jadi menkeu AS, Obama malah milih Geithner,mmmhhh…anyway…

Ada beberapa hal yang nge-gelitik gw dr buku ini, terutama kaitannya ama Indonesia ku ini y br aja dapet kado ultah kepala Noordin M.Top buat lebaran ini (whatta fun holiday this will be!). Pertama,tulisan Krugman perlu ati-ati ditrima sama mahasiswa Indonesia yang hobi protes pemerintah dengan prinsip “pemerintah harusnya…” (nanti dijelasin di bawah”. Kedua, yg menarik dan mungkin agak kontradiksi dari tulisan Krugman adalah gmana ide-ide sosialis a la new deal bs berkembang dan ditrima di Amrik yang berevolusi lewat bukti nyata dan persuasi, yang mengarah pada “titik terang” bagi perkembangan ide liberal-pasar di Indonesia (poin yg ketiga), afterall keseimbangan pasar-peran negara adalah inti dr gmana ngurus ekonomi negara ini (selain ngurus / mendisiplinkan agenda-agenda anti-perbedaan di negara ini,whekekek).

Pertama, Krugman yang nyaranin large government intervention musti ati-ati disikapin.Jangan sampe ada mahasiswa bilang, “tuh kan,Krugman aja bilang pemerintah AS perlu turun lebih jauh ke perekonomian, tuh kan ekonomi amrik dr 50-awal70 makmur gila…gap kaya miskin kurang, jelas kan?”. Saudaraku, satu kalimat penting dr Krugman adalah bahwa segala intervensi pemerintah itu dilakukan secara bersih, kagak korup, yg berarti birokrasinya bener. Indonesia..mmmhhh…birokrasinya masih ga efisien,ditandai dengan lamanya saudara bila ingin pinjam bikun atau ruangan. Kalau pemerintah kay gini,mending swasta aja yah yg ngurus. (Man…this will leave me a lot of trouble).

Kedua, ini yg menurut gw menarik. Fyi,Krugman bilang di sebelum Great Depression (yg mana sebelum program New Deal), ide stimulus ekonomi-nya Keynes itu dianggap engga banget, dianggap engga pro pasar-lah apa lah. Tp kemudian lambat laun dengan program pemerintah yang jalan,stimulus tepat sasaran,birokrasi yg bersih,ide social safety net (dan net-net yg lain) malah terus ada dan jadi sebuah keharusan utk stiap pemerintah bertahan. iya,”keharusan”. Nah,utk Indonesia yang secara umum mahasiswa-nya massiiiih aja berkutat di “pemerintah harusnya…” dan memicingkan mata kala kata “pasar” disebut, pemerintah Indonesia mustinya semakin nunjukkin bahwa market bs trickle down ke kesejahteraan. Aturan main dan peraturan musti makin di-ok-in supaya kompetisi ngasilin “buah” yg baik,jangan ampe ngehasilin pengusaha-pengusaha pencari rente di Indonesia seperti Besowa,hoho…Protes dikit-dikit gpp lah,kaya kasus Century,tp buktiin dgn performance dan persuasi,kata bang rizal bilang.

So all in all, Wapres kita Boediono kan udah bilang…sekarang,bukan waktunya lagi ekonomi kiri atau ekonomi kanan karena sejarah udah nunjukkin kelebihan dan kelemahan di antara keduanya. Berhubung kita masih mikirnya pemerintah dgn birokrasi belum dewasa ini harus take over smua, dan pasar duduk aja di kursi belakang dan menghasilkan pemain pasar yg manja dan suka nyogok pemerintah, waktunya kita reclaim Indonesia from the left,move it a bit to the right,,not too much though…ada UUD ‘45 ko gw inget.

Pemira UI beyond the politics

October 26, 2009 by patryapratama

Pemira lagi! ga kerasa (well…kerasa sih,humas gtu loh) bem ui 2009 bentar lagi mnemui akhirnya (sooo much to do still). Kaya biasa,pemira emang slalu jd event yg ga pernah sepi dr hingar bingar keseharian kita di kampus. Mau yang peduli atau engga, mau yang emang hobi ngintrik politik atau engga, atau yg berniat tulus memperbaiki keadaan atau mencari rente politik kampus,doesnt matter, pemira biasanya jadi “buzz” yang kuat. Mencontek salah satu quote di HI, “you may not be interested in Pemira,but Pemira will always be interested in you”. Ok lah, coba kita diskusikan pemira ini yah. Btw tulisan ini tidak bermaksud politis mendukung siapa-siapa kaya satu tulisan yg udah bahkan ada di anakui.com, gw cuma coba kasi pandangan aja ttg salah satu aspek di pemira yg juga jd bahan bacaan gw di kuliahan sehari2 : POLITIK.

Kenapa ngomongin Politik di Pemira? selaen karena gada lg yg bs gw omongin, mnurut gw politik penting ditlisik karna sering banget kita denger beberapa nada miring yang mengandung kata politik di dalamnya ketika ngomongin pemira, seperti : “ah itu politik kampus tuh” atau “ah dia maju tuh politik buat mecah suara gosipnya” atau “dasar politik,apa aja dilakuin untuk menangin pemira”. Yaah pokonya sejenisnya lah (kenapa kaya anak sd bikin kalimat pake kata politik yah?). Demikianlah gmana politik kampus didekatkan dengan makna yang tidak begitu positif (bila tidak menyebutnya sebagai buruk,licik,dan akal2an demi suara semata). Sebagai mahasiswa FISIP,ini sewajarnya bikin gw gregetan…why the campus politics is the culprit? apa yang salah? hmmm…

Penjelasan yang menurut gw selayaknya dipertimbangkan (selaen utk menyelamatkan politik dr muntahan kebencian) adalah karena politik kampus is part of the problem, not the solution.Mungkin pengalaman gw di ngintrik2 politik minim banget,,,tp ya itu td…proses perebutan suara dr berbagai kalangan (walaupun ada yg ga “berbagai” sih tp yaudah lah anggap aja kita pengen suara dr berbagai kalangan) yang belum berbasis ide adalah masalahnya. Betapa sering kita melihat kampanye yang sangat kontras…tanpa bermaksud nyolot…tp liat deh,ada yg dr kuning,item,biru,ijo,merah,abu2. Ciri masing2 ini sangatlah kental. Ga aneh juga suka ada spirit klmpknya tinggi…menggunakan infrastruktur organisasi/perkumpulan tertentu. Berjuang agar grupnya yg menang pastinya.Trus kalau mau minta dukungan,pendekatan grouping yg digunakan Sebagai mahasiswa fisip,gw ga nganggap ini salah, ini wajar banget malah. You always want part of your group to win,that’s natural. In the end, politics in liberal term kan proses “capture and recapture institution’s interest since there’s no single autonomous interest of power”. Apanya donk yang bikin gregetan?

“I S U R I I L”

itulah yang hilang menurut gw. Logikanya sederhana. Siapa sih yang ga pengen lingkungan yang lebih baik? siapa yg ga pengen BEM UI jd lebih guna? siapa juga yang ga pengen biaya kuliah UI jd trun? what kind of mad-man yang ga pengen fasilitas lbh baik dan suaranya terwakili? pertanyaannya kan apa sih yg rencana lu kandidat bs bikin idup gw lebih bener di UI,gtu bkankah? Jadi,harusnya…di pemira itu,waktu dan energi banyak dihabiskan utk perdebatan bagaimanakah cara mencapai hal2 baik itu, bukan yang lain. Logika diadu, alasan didebat, angka dihidangkan dan solusi dipaparkan. Mana yang paling mampu menjawab pertanyaan itulah yg seharusnya menjadi sorotan, bukan yg lainnya. ini kan beyond politics mnurut gw,apa pun afiliasinya pasti mau gtu. Tp kenapa ya yg bikin seru malah bukan angka-angka dan logika-logika yang diadu utk menjawab permasalahan? Akan menjadi keputusan yang sangat sulit utk rakyat kalau benar-benar perhatian sama what is it with the program yg bikin gw kebantu. Ada dua yang menurut gw penting di-address.

Pertama, weapons of mass distractions (destract lho ya…bukan destruct. Pengalih perhatian,bukan penghancur). Ini gw ngutip kata2nya Paul Krugman, ekonom yang (sayangnya) anti-friedman. Kita musti nyadar kadang orang ga milih berdsrkan apa kepentingannya secara langsung,tp seringkali milih berdasarkan hal2 yg gada hubungannya sama keadaan mereka,tp entah kenapa mereka milih juga. Apa aja sih “senjata pengalih perhatian ini”? banyak bung! identitas sempit, pendekatakan ketokohan,gosip, penampilan juga,hihi…konyol? sempit? boleh aja berpikir gtu,tp engga juga ah mnurut gw,wajar ko.Amartya Sen bilang klo identitas itu kan kedalaman pemaknaannya dikonstruk oleh aktornya (“konstruk”,kaya siapa gtu yg sering pake kata2 ini). Dan rasa primordial dan hal2 distractions itu bs jadi lebih penting utk manusia, mengalahkan “riil issues debate” yg langsung ngaruh buat mereka. Toh kepuasan kan subjektif ya…mungkin banyak orang yg puas klo identitas itu yg lebih penting sehingga riil issues di-entar-entar ajalah…sekali lagi ini “normal”. Terserah sampean utk ter-distract atau engga. Susah buat nge-judge soale.

Kedua,ada ga “raison d’etre” institusi yg di-pemira-in? jangan-jangan orang riuh rendah membicarakan the whole weapons of mass distracttions simply karena “there are no riil issues to discuss about”. atau there are much about nothing? who knows? Mungkin BEM UI atau BEM fak emang udah ga relevan lg dlm mempengaruhi hidup mereka mungkin? siapa tau kan pikiran orang? Anda boleh insist klo ia ngaruh,ok fine. Tp kan pemaknaan itu kan sbjective. Mungkin ia ngaruh buat sebagian orang tp buat sebagian lain (large part i believe) ga relevan, ga ngaruh. So..yaudah…marilah berasik2 dgn hal2 distractions td. Sementara itu,index kualitas kehidupan dinamika kegiatan mahasiswa di kampus ya sgitu2 aja,no progress. Skali lg, ini hanyalah kemungkinan. Tp menurut saya, gw harap alasan kedua ini ga masuk akal (mulai subjective-nya,nasionalisme gw pada bem tumbuh). It matters ko. Liat deh adek2 maba yg rela ngantri ke ruang bem stlh kakak2nya bantuin advokasi mreka. Liat deh gembiranya sebuah fakultas waktu ia menang olimpiade olahraga dan ilmiah yg diadain bem itu, liat deh betapa celingak celinguknya wartawan ketiga gada orang berjaket kuning pas demo, atau yg lainnya lah (gamau pamer berlebihan). Klasik? mungkin…atau “raison d’etre” bem yg udah bertambah jauuuuh lbh banyak yg blon di jwab sehingga orang dengan mudahnya “ah ga relevan”? mungkin…

ini alasan yg bikin gw paling takut : people loose faith in the very institution (bem)

This disfunctionality is tiring them up! serem ga lu! organisasi yg mnurut gw punya sejumlah peluang untuk bikin pengalaman kita sedikit lebih banyak,potensi kita sedikit lebih berkembang,pandangan kita sdikit lebih kaya, kaki kita sedikit lebih kuat (gara2 jalan nanjak ke pgw),atau rektorat kita sedikit lebih bijaksana (ngareep) ini loosing the faith of the very important reason why it exists in the first place : temen2 mahasiswa nya sendiri. Terlalu seringnya kita utk fokus di politik kampus lewat intrik,perdebatan idologi,dan weapon of mass distractions telah membuat kita mungkin lupa bahwa ada mata yg slalu ngeliat kita,semangat yg menunggu kita,minat dan bakat yg tinggal diserap jd percuma…menoleh pada lahirnya organisasi2 baru yg muncul utk menjawab hal2 baru itu. Who knows? I hope this is not and will never be true as i keep faith on bem (kenapa jg gw serve staun ini).

Untuk penutup,ayo temen-temen…ayo!no more paying attention to weapon of mass distractions,no more empty faith,no more fungky politics,no more IGNORANCE. Mari penuhi pemira yg akan datang ini dengan antusiasme akan perdebatan, the hunger for real solutions, the thirst of relevansi, dan spirit of Satu UI. Dan ini smua ga bs ngandelin para kandidat yang akan maju doank (gmana bs kalau rakyatnya sabodo?). As untuk mahasiswa,mari kita seleksi kandidat yang menjauhkan kita dr weapons of mass distractions, kandidat yang ada faith untuk percaya sama our common goods, dan kepercayaan kalau kita semua pasti lebih baik asalkan sedikit kerja lebih keras dan sedikit saling percaya sama common sense dan common people. Karena ini bukan ttg kandidat2,tp ttg kamu,saya,kita,kampus ini.Kalau kata temen saya, harapan itu masih ada. Dan yg perlu diinget : politics is still the way to get beyond (masih ngebela kata “politik”). Viva UI!

Palin to Mega : You Have a Friend in Me

October 5, 2008 by patryapratama

I’m not against Megawati nor Palin, but i believe that it takes some knowledge to be a top-ranking government official. As to this interview,i am awkwardly disturbed as a international relation major student when Palin explains her foreign relations knowledge. Some people just dont suit some position. Check this out guys.

Call me a sexist,but it’s hillarious

October 5, 2008 by patryapratama

In fact, i never differentiate gender when it comes to public official. About this post, i just wanna add one thing, if this kind of political jokes ever happens in Indonesia, there are 2 possibilities : the show got shut down or the actress got shot at. Laugh it up guys!

on desicion making

June 13, 2008 by patryapratama

hey again…it’s been while.

Dude i gotta tell you this. Among weird things i always do, there are at least two stuff that never change. Its that i am aquite consistent flip-flopper and never ready enough to get over my childhood. Living a kind of life with those characteristics is kinda fun actually, not necessarily fit people well, but umm it’s great. I mean, just think about it. How many people who claim that they live their life seriously yet they screwed up eventually and got f**k up in their lives?

And by the way, it happened to be that i had to make a tough call today. The kind of desicion that could change the landscape of my freakin life for the next two years. You dont have to know believe me cuz you’ll know anyway somehow. At one point when making the call, i thought, dude Pat this is your major desicion making after a while. You have got to be more serious (as if it had been a voluntary acknowledgement that i had been such a kid).

But umm after a while i thought…you know…may be i dont have to be serious. I choose to keep thinking that this entire life is a trial and error. If i fucked up with this desicion,so what…i cant keep making a good call afterall can I?

In short,i hope that i could always make my desicion lightly, get on with life, (sometimes) screw up, pick up the pieces again…reshape, and keep laughing at my own mistakes.I dont even know if this is gonna work. Do you?

a 20 year fergie glory thanks note

June 13, 2008 by patryapratama

These battered hands are all you own
This broken heart just turned to stone
Go hang your glory on the wall
There comes a time when castles fall
And all that’s left is shifting in the sand

You’re out of time, you’re out of place
Look at your face
That’s the measure of a man

This coat that fits you like a glove
These dirty streets you learned to love
So welcome back my long lost friend
You’ve been to hell and back again
And God alone knows how you crossed that span

Back on the beat, back to the start
Trust in your heart
That’s the measure of a man

It’s the fire in the eyes, the lines on the hand
It’s the things you understand
Permanent ties from which you once ran
That’s the measure of a man

You’ve come full circle, now you’re home
Without the gold, without the chrome
And this is where you’ve always been
You had to lose so you could win
And rise above your troubles while you can

Now you can love, now you can lose
Now you can choose
That’s the measure of a man

It’s the fire in the eyes, the lines on the hand
It’s the things you understand
Permanent ties from which you once ran
That’s the measure of a man

You’ve come full circle, now you’re home
Without the gold, without the chrome
And this is where you’ve always been
You had to lose so you could win
And rise above your troubles while you can

Now you can love, now you can lose
Now you can choose
That’s the measure of a man

Just Some Random Thoughts of the Day

March 23, 2008 by patryapratama

On Manyoo : today i randomly thought what if Sir Alex Feguson dies? what would i do and what would happen?  i think i’ll send flowers to his home or to old Trafford. I might ask how much it costs to fly to UK,but there’s empty hope behing it,so ouw well. But what scares me more is on what would happen next? how manchester United do without him? look,he’s in his 70’s, is healthy, still shouting at some idiotic referees,enought reason for me to think about this in at least 10 years time. 

On Tennis : Where on earth Serena and Venus Williams? women tennis become “too white” without them! You’ve gotta adore the sisters, especially for all effort and sacrifices they gave in such a young age. To substitute my eagerness to see “historical mental toughness” of the two, now i choose my own eagerness to see “beauty peagant” at women tennis. Afterall this is what most men say when it comes to the likes of Maria Sharapova, Ivanovic, Hantuchova (but not Henin due to her “unwomenly” characteristic). Not all these women performs the best tennis as the Williams always do,but they perform the best look. Love both ways!

On miracle : as normal person, one might want to try to do in their late life to give appreciation to those who have helped him/her in his/her life. Same thing hapenned to me. If i ever become succesfull (with a reduced definition of succes as being recognizably accomplished for the good deeds i’ve done), i would create a world awards in the name of mine. It would be called “Patrya awards”, as it stands now, i would give the awards to my dad, my mom, my grandmas, my guru ngaji smp, to the AFS, to all my sd teachers, Kentucky Fried Chicken, Teh Botol Sosro, etc. And afterwards, i would make this award to somebody who is believed to have performed some kind of miracle to other people, somebody who has done a huge favor to serve others. The awards hopefully will be as high profile as Academy Award or Grammy or Nobel Peace Prize. I can imagine the winner of Patrya Awards of 2057 is given to (for example) Tuminem for his tireless effort to feed 100 vilagers in TimorLeste,cool huh? Well afterall, just some idea to make my name out of something.

On motorcycle : you know what would be my first policy when i get (somehow) to become a ministry of transportation? I would create a special lane for motorcycle on the side of every road. And a direct order to shoot directly for policemen if there’s motorbike disobey the law! gosh i hate motorcycle! Life would be greater without them!

Enough for the randomness! i need to get a life.

Short note on OIS

March 23, 2008 by patryapratama

Hi there! Damn it has been a while i havent posted any stories here,so here i go. So this time i’m not gonna write anything about political issue as the last one (if you considered Suharto as political issue,i tend to describe it as “dead-man agenda”). 

 Before i talk about OIS, i want to go back to what i said a while a go when i was about to finish high school. I remember saying that i’ve had enough working on events commitee. You know…all that “been there-done that” kinda statement, whatta shmuck i was -as always. Fyi…my junior high and senior high were having so many events -not all of them were usefull i must admit,but there were lots of them. Having th position as ketua umum was ridicoulusly making me feel that i know everything. (keep reading cuz you’ll get the wrong impression of me if you stop here).

Then time revealed itself to me. In university, i got bored easily. Man! i cant stand going to classes after classes without doing anything else. My brain freezed up…my creativity was gone (if there had been any). Then it happened to me some vicious offer to help OIS, and the year after i was offered to be the PO. Honestly i freakin’ didnt know why did i still accept such offer since the feeling of “hell yea i know everything” was still evident at the time. I guess it was just some random drive to keep me saying yes to any activity that makes me busy, the hunger for the next challange…the thirst of…i dont even know the word…stupidity i thought…

Ok…so the same things happen in the events…fundraising…shouting…money…schedule…basically all kinds of madness you can think of. You dont know what kind of madness i’m talking about when it comes to me unless you’ve worked with me. I’m an a**hole i must admit, in a good way (sorry it it’s too hard to imagine).  The events itself went more or less well i suppose…with hundreds of flaws here and there but generally it went ok. Then there came thoughts…something that i always try to get use to doing periodically.

Then i give myself some time to think. The conclusion : there are no such thing as “been there done that” paradigm. There’s always new things to learn from. Never in my comitee before had i found a kestari like this Medanese Girl. She’s so sincere, honest…although those are not necessarily enough due to her “limited experience” in typing -and cellphoning. I’m not trying to single out her…but my point is that…there are always millions of details that you can see and learn. So many stories behind everyone you’re working with. These new details thrill me so much…Forget the work (some people might say as i type this…yea right Pat, you peace of s**t,look who’s talking)…i dont think it’s the work that i’ll remember…but the opportunity i took and opportunity i didnt take to understand people. It was so difficult to see these when you work, shoot!

So umm,i know, dull conclusion eh? sorry to dissapoint you. This is just to remind us that often we are too cheap in saying that we’ve had it all whereas we actually havent learnt enough. Having say that,i dont think i’ll never say never again.Only time will tell.

PS: OIS=olimpiade ilmu sosial UI, sebuah ajang menempa ilmu sosial tingkat nasional bagi siswa-siswi SMA terbaik se-Indonesia, lengkapnya hubungi Friendsternya, ato ga humasnya